Analisis Pengaruh Waktu Perebusan Serat Bambu Apus (Gigantochloa Apus) Pada Larutan NaOH Terhadap Beban Tarik

  • Dede Lia Zariatin
  • Muhammad Alfian Ravizqi
  • Ansor Salim Siregar
Keywords: Chemical Ekstraction, Kekuatan Tarik, Serat Bambu Apus

Abstract

Penggunaan material yang ramah lingkungan menjadi salah satu hal yang perlu dipertimbangkan dan dikembangkan saat ini. Keadaan pada alam adalah faktor yang menjadi pertimbanganya, dikarenakan sulitnya suatu material terurai dengan alam. Serat bambu apus memiliki potensi yang baik sebagai penguat pada komposit dan merupakan sumber dari alam. Pada penelitian ini, uji tarik dilakukan untuk mengetahui kekuatan tarik serat bambu apus dari berbagai perlakuan. Penelitian ini menggunakan metode true experimental, dengan pengujian uji tarik sesuai standar ASTM D 3379-75. Dalam penelitian ini, digunakan serat bambu apus tanpa perendaman larutan NaOH, 60 menit perendaman larutan NaOH, 90 menit perendaman larutan NaOH dan 120 menit perendaman larutan NaOH. Pembuatan serat bambu untuk uji tarik dilakukan dengan metode chemical ekstraction. Hasil penelitian menunjukan bahwa serat bambu perendaman larutan NaOH dengan variasi waktu 90 menit memiliki kekuatan tarik paling tinggi dengan nilai rata-rata kekuatan tarik 1,904,40 N/mm² dibanding variasi serat perendaman yang lain. Perbedaan kekuatan tarik dari berbagai variasi disebabkan oleh sifat dan karakteristik serat akibat perendaman NaOH yang berbeda pula. Perendaman NaOH bertujuan untuk memperbaiki sifat permukaan untuk menghilangkan zat lignin dan lilin pada serat bambu apus untuk meningkatkan kekuatan ikatan antara serat dan matrik. Tetapi pada konsetrasi 5% NaOH pada perendaman 60 menit dan 120 menit menurunkan kekuatan tariknya dikarenakan zat dan komposisi kimia pada serat terdegradasi dan melemahkan kekuatan serat.

Published
2021-01-26
Section
Teknologi Tepat Guna